Dia sudah lama tak berjumpa
dengan ibunya dan tak akan lagi berjumpa dengan ibunya. Dia ingin sekali
mendengar pertanyaan “Nak apa kau baik-baik saja?” Dia ingin sekali mengatakan
bahwa “Aku sedang tidak dalam keadaan baik-baik saja ma. Semuanya aku tahan
sendiri. Peluk aku ma, aku akan ceritakan satu-persatu hal yang aku alami tanpa
ada mama disisiku. Aku ingin menangis sebentar saja dalam pelukanmu. Aku akan
ceritakan bagaimana sulitnya seorang anak berjalan sendiri tanpa seorang ibu
disisinya. Apakah mama akan merasa bersalah? Kalau mama merasa bersalah jangan
pernah lepaskan pelukanmu. Kalau mama tetap akan melepaskan pelukan ini, jangan
pernah pergi jauh dari sisiku. Mama akan liat seberapa aku sering menangis
tanpa mengeluarkan suara agar tidak ada orang lain yang tahu. Mama akan lihat
lelahnya aku berpura-pura dalam keadaan baik agar tak banyak orang lagi yang
mengasihaniku. Mama akan lihat betapa lelahnya aku, betapa aku membutuhkan
bahumu dan pelukmu untuk melepas lelah. Mama akan lihat seberapa aku
membutuhkan tubuhmu untuk tameng dari semua orang yang berani menyakitiku
karena aku tak punya mama. Lihatlah betapa seringnya aku bertingkah seolah aku
memilikimu ketika aku sedang berkelahi dengan orang lain, yang pada akhirnya
menyakitiku ketika aku kalah karna orang lain memiliki mama disisinya sedangkan
aku tidak. Lihatlah aku yang masih ingin bertanya baju manakah yg cocok
untukku, sepatu mana yang pas untuk kakiku. Lihatlah aku yang tak bisa apa-apa
tanpa. Lihatlah seberapa aku sangat membutuhkanmu. Lihatlah ma. Apabila kau
juga kau bisa selalu dalam sisiku, kunjungi aku sesekali dalam mimpi. Aku
sangat merindukanmu ma…”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar