Dia sudah lama tak berjumpa
dengan ibunya dan tak akan lagi berjumpa dengan ibunya. Dia ingin sekali
mendengar pertanyaan “Nak apa kau baik-baik saja?” Dia ingin sekali mengatakan
bahwa “Aku sedang tidak dalam keadaan baik-baik saja ma. Semuanya aku tahan
sendiri. Peluk aku ma, aku akan ceritakan satu-persatu hal yang aku alami tanpa
ada mama disisiku. Aku ingin menangis sebentar saja dalam pelukanmu. Aku akan
ceritakan bagaimana sulitnya seorang anak berjalan sendiri tanpa seorang ibu
disisinya. Apakah mama akan merasa bersalah? Kalau mama merasa bersalah jangan
pernah lepaskan pelukanmu. Kalau mama tetap akan melepaskan pelukan ini, jangan
pernah pergi jauh dari sisiku. Mama akan liat seberapa aku sering menangis
tanpa mengeluarkan suara agar tidak ada orang lain yang tahu. Mama akan lihat
lelahnya aku berpura-pura dalam keadaan baik agar tak banyak orang lagi yang
mengasihaniku. Mama akan lihat betapa lelahnya aku, betapa aku membutuhkan
bahumu dan pelukmu untuk melepas lelah. Mama akan lihat seberapa aku
membutuhkan tubuhmu untuk tameng dari semua orang yang berani menyakitiku
karena aku tak punya mama. Lihatlah betapa seringnya aku bertingkah seolah aku
memilikimu ketika aku sedang berkelahi dengan orang lain, yang pada akhirnya
menyakitiku ketika aku kalah karna orang lain memiliki mama disisinya sedangkan
aku tidak. Lihatlah aku yang masih ingin bertanya baju manakah yg cocok
untukku, sepatu mana yang pas untuk kakiku. Lihatlah aku yang tak bisa apa-apa
tanpa. Lihatlah seberapa aku sangat membutuhkanmu. Lihatlah ma. Apabila kau
juga kau bisa selalu dalam sisiku, kunjungi aku sesekali dalam mimpi. Aku
sangat merindukanmu ma…”
Selasa, 14 Oktober 2014
Kamis, 12 Juni 2014
random #1
Gak selamanya kita dapat menyenangkan orang lain. Itu
menandakan bahwa kita masihlah manusia, bukan dewa. Ada waktu dimana kita bisa
mengecewakan dan tidak dapat membayar kepercayaan yang telah diberikan. Masih
manusiawi, asalkan kita tidak mengecewakan seseorang itu dengan sengaja :)
Senin, 12 Mei 2014
Berani Memuntahkan
Aku menahanmu terlalu lama hanya
untuk tersakiti. Ini sama saja seperti saat aku menahan rasa ingin muntah. Saat
aku merasa ingin muntah aku menahan rasa itu. Aq mengambil minyak kayu putih
dan menggosoknya di perut untuk meredakan rasa mual itu. Mencoba berbaring agar
tertidur dan berharap saat aku terbangun, aku sudah baikkan. Sama seperti
menahanmu, terus menahanmu agar selalu disisiku, dengan hubungan yang sudah
tidak pantas dipertahankan. Aku terus menahanmu, berharap ketika hari berganti
hari hubungan kita akan semakin membaik walau kenyataannya sama sekali tidak.
Akankah aku akan menyesal ketika
melepasmu? Akankah aku bisa tanpamu? Akankah akan menjadi keputusan yang benar
ketika melepasmu? Semua pertanyaan itu telah memagari pikiranku, sehingga yang
terpikirkan adalah aku takut kehilanganmu dan rasa sakit hanya akan menjadi
harga yang pas untuk selalu berada disisimu.
Aku terlalu takut pada rasa
ketika aku memuntahkannya. Pada sakit saat aku berkali-kali memuntahkan isi
perut kita hingga habis, hingga pada akhirnya tubuh hanya mampu memuntahkan
cairan. Pada rasa lemas setelah semua termuntahkan. Takut pada rasa sakit yang
berkali-kali akan muncul ketika aku mulai melepas kenangan satu per satu bersamamu
hingga yang tersisa hanya rasa penyesalan karena sudah tak lagi memilikimu.
Tanpa pernah mau tahu, setelah
aku memuntahkan semua ada rasa lega karena tak lagi menahan dan siap untuk
diisi kembali dengan makanan yang tentunya lebih selektif, karna aku tak ingin
muntah lagi .
Kamis, 01 Mei 2014
Batas Keberanian
Aku lebih berani memandangnya
seperti ini. Aku begitu menikmatinya. Aku menikmati setiap inchi dari wajahnya,
setiap lekukan, garis tegas wajahnya, kami begitu dekat, dan tidak ada yang
lebih sempurna dari semuanya ini.
Entah sudah berapa lama aku memandangnya,
mungkin satu jam, mungkin 2 atau 3 jam, atau mungkin aku telah memandanginya
sepanjang dia terlelap malam ini, dan nyatanya aku tak pernah bosan. Mulai dari
rambutnya yang nampak sedikit ikal, yang biasanya terlihat begitu lurus tak
tergoyahkan. 2 anak jerawat yang akan menjadi dewasa pada waktunya, itu pasti
akan merepotkannya karna dia begitu membenci jerawat yang tanpa ijin menghiasi
wajahnya. Bibir yang dalam keadaan tenang. Hidung yang masih bernafas dan mata
dalam keadaan tertutup. Aku memandangi semuanya itu secara bergantian.
Bukannya aku tidak suka ketika
mataku dan matanya bertemu, hanya saja hal itu akan mempersingkat waktu
pandangku kepadanya. Terlebih lagi aku akan takut pada semua tuduhan yang akan
tersirat dimatanya apabila aku terpaku padanya terlalu lama. Segala tuduhan
yang sama saja dengan garam itu asin dan gula itu manis. Aku tak dapat
memberikan rasa lain selain asin pada garam dan manis pada gula, dan aku juga
tak dapat menyalahkan rasa itu
Benar bahwa aku menyukainya,
Benar bahwa aku punya rasa,
Benar bahwa aku tak seharusnya seperti ini,
Benar bahwa aku salah.
“Aku telah puas memandangimu
malam ini, aku tidak menginginkan hal ini terjadi dua kali, karena itu lekaslah
sembuh, dan jangan sakit lagi.” Setelah mengatakan itu dengan lirih, aku
berhenti memandanginya malam itu.
Langganan:
Postingan (Atom)