Selasa, 14 Oktober 2014

Yang ingin dia dengar, dan yang ingin dia katakan

Dia sudah lama tak berjumpa dengan ibunya dan tak akan lagi berjumpa dengan ibunya. Dia ingin sekali mendengar pertanyaan “Nak apa kau baik-baik saja?” Dia ingin sekali mengatakan bahwa “Aku sedang tidak dalam keadaan baik-baik saja ma. Semuanya aku tahan sendiri. Peluk aku ma, aku akan ceritakan satu-persatu hal yang aku alami tanpa ada mama disisiku. Aku ingin menangis sebentar saja dalam pelukanmu. Aku akan ceritakan bagaimana sulitnya seorang anak berjalan sendiri tanpa seorang ibu disisinya. Apakah mama akan merasa bersalah? Kalau mama merasa bersalah jangan pernah lepaskan pelukanmu. Kalau mama tetap akan melepaskan pelukan ini, jangan pernah pergi jauh dari sisiku. Mama akan liat seberapa aku sering menangis tanpa mengeluarkan suara agar tidak ada orang lain yang tahu. Mama akan lihat lelahnya aku berpura-pura dalam keadaan baik agar tak banyak orang lagi yang mengasihaniku. Mama akan lihat betapa lelahnya aku, betapa aku membutuhkan bahumu dan pelukmu untuk melepas lelah. Mama akan lihat seberapa aku membutuhkan tubuhmu untuk tameng dari semua orang yang berani menyakitiku karena aku tak punya mama. Lihatlah betapa seringnya aku bertingkah seolah aku memilikimu ketika aku sedang berkelahi dengan orang lain, yang pada akhirnya menyakitiku ketika aku kalah karna orang lain memiliki mama disisinya sedangkan aku tidak. Lihatlah aku yang masih ingin bertanya baju manakah yg cocok untukku, sepatu mana yang pas untuk kakiku. Lihatlah aku yang tak bisa apa-apa tanpa. Lihatlah seberapa aku sangat membutuhkanmu. Lihatlah ma. Apabila kau juga kau bisa selalu dalam sisiku, kunjungi aku sesekali dalam mimpi. Aku sangat merindukanmu ma…”


Kamis, 12 Juni 2014

random #1

Gak selamanya kita dapat menyenangkan orang lain. Itu menandakan bahwa kita masihlah manusia, bukan dewa. Ada waktu dimana kita bisa mengecewakan dan tidak dapat membayar kepercayaan yang telah diberikan. Masih manusiawi, asalkan kita tidak mengecewakan seseorang itu dengan sengaja :) 

Senin, 12 Mei 2014

Berani Memuntahkan

Aku menahanmu terlalu lama hanya untuk tersakiti. Ini sama saja seperti saat aku menahan rasa ingin muntah. Saat aku merasa ingin muntah aku menahan rasa itu. Aq mengambil minyak kayu putih dan menggosoknya di perut untuk meredakan rasa mual itu. Mencoba berbaring agar tertidur dan berharap saat aku terbangun, aku sudah baikkan. Sama seperti menahanmu, terus menahanmu agar selalu disisiku, dengan hubungan yang sudah tidak pantas dipertahankan. Aku terus menahanmu, berharap ketika hari berganti hari hubungan kita akan semakin membaik walau kenyataannya sama sekali tidak.

Akankah aku akan menyesal ketika melepasmu? Akankah aku bisa tanpamu? Akankah akan menjadi keputusan yang benar ketika melepasmu? Semua pertanyaan itu telah memagari pikiranku, sehingga yang terpikirkan adalah aku takut kehilanganmu dan rasa sakit hanya akan menjadi harga yang pas untuk selalu berada disisimu.

Aku terlalu takut pada rasa ketika aku memuntahkannya. Pada sakit saat aku berkali-kali memuntahkan isi perut kita hingga habis, hingga pada akhirnya tubuh hanya mampu memuntahkan cairan. Pada rasa lemas setelah semua termuntahkan. Takut pada rasa sakit yang berkali-kali akan muncul ketika aku mulai melepas kenangan satu per satu bersamamu hingga yang tersisa hanya rasa penyesalan karena sudah tak lagi memilikimu.


Tanpa pernah mau tahu, setelah aku memuntahkan semua ada rasa lega karena tak lagi menahan dan siap untuk diisi kembali dengan makanan yang tentunya lebih selektif, karna aku tak ingin muntah lagi .

Kamis, 01 Mei 2014

Batas Keberanian



Aku lebih berani memandangnya seperti ini. Aku begitu menikmatinya. Aku menikmati setiap inchi dari wajahnya, setiap lekukan, garis tegas wajahnya, kami begitu dekat, dan tidak ada yang lebih sempurna dari semuanya ini.

Entah sudah berapa lama aku memandangnya, mungkin satu jam, mungkin 2 atau 3 jam, atau mungkin aku telah memandanginya sepanjang dia terlelap malam ini, dan nyatanya aku tak pernah bosan. Mulai dari rambutnya yang nampak sedikit ikal, yang biasanya terlihat begitu lurus tak tergoyahkan. 2 anak jerawat yang akan menjadi dewasa pada waktunya, itu pasti akan merepotkannya karna dia begitu membenci jerawat yang tanpa ijin menghiasi wajahnya. Bibir yang dalam keadaan tenang. Hidung yang masih bernafas dan mata dalam keadaan tertutup. Aku memandangi semuanya itu secara bergantian.

Bukannya aku tidak suka ketika mataku dan matanya bertemu, hanya saja hal itu akan mempersingkat waktu pandangku kepadanya. Terlebih lagi aku akan takut pada semua tuduhan yang akan tersirat dimatanya apabila aku terpaku padanya terlalu lama. Segala tuduhan yang sama saja dengan garam itu asin dan gula itu manis. Aku tak dapat memberikan rasa lain selain asin pada garam dan manis pada gula, dan aku juga tak dapat menyalahkan rasa itu

Benar bahwa aku menyukainya,
Benar bahwa aku punya rasa,
Benar bahwa aku tak seharusnya seperti ini,
Benar bahwa aku salah.

“Aku telah puas memandangimu malam ini, aku tidak menginginkan hal ini terjadi dua kali, karena itu lekaslah sembuh, dan jangan sakit lagi.” Setelah mengatakan itu dengan lirih, aku berhenti memandanginya malam itu.