Senin, 12 Mei 2014

Berani Memuntahkan

Aku menahanmu terlalu lama hanya untuk tersakiti. Ini sama saja seperti saat aku menahan rasa ingin muntah. Saat aku merasa ingin muntah aku menahan rasa itu. Aq mengambil minyak kayu putih dan menggosoknya di perut untuk meredakan rasa mual itu. Mencoba berbaring agar tertidur dan berharap saat aku terbangun, aku sudah baikkan. Sama seperti menahanmu, terus menahanmu agar selalu disisiku, dengan hubungan yang sudah tidak pantas dipertahankan. Aku terus menahanmu, berharap ketika hari berganti hari hubungan kita akan semakin membaik walau kenyataannya sama sekali tidak.

Akankah aku akan menyesal ketika melepasmu? Akankah aku bisa tanpamu? Akankah akan menjadi keputusan yang benar ketika melepasmu? Semua pertanyaan itu telah memagari pikiranku, sehingga yang terpikirkan adalah aku takut kehilanganmu dan rasa sakit hanya akan menjadi harga yang pas untuk selalu berada disisimu.

Aku terlalu takut pada rasa ketika aku memuntahkannya. Pada sakit saat aku berkali-kali memuntahkan isi perut kita hingga habis, hingga pada akhirnya tubuh hanya mampu memuntahkan cairan. Pada rasa lemas setelah semua termuntahkan. Takut pada rasa sakit yang berkali-kali akan muncul ketika aku mulai melepas kenangan satu per satu bersamamu hingga yang tersisa hanya rasa penyesalan karena sudah tak lagi memilikimu.


Tanpa pernah mau tahu, setelah aku memuntahkan semua ada rasa lega karena tak lagi menahan dan siap untuk diisi kembali dengan makanan yang tentunya lebih selektif, karna aku tak ingin muntah lagi .

Tidak ada komentar:

Posting Komentar