Aku menahanmu terlalu lama hanya
untuk tersakiti. Ini sama saja seperti saat aku menahan rasa ingin muntah. Saat
aku merasa ingin muntah aku menahan rasa itu. Aq mengambil minyak kayu putih
dan menggosoknya di perut untuk meredakan rasa mual itu. Mencoba berbaring agar
tertidur dan berharap saat aku terbangun, aku sudah baikkan. Sama seperti
menahanmu, terus menahanmu agar selalu disisiku, dengan hubungan yang sudah
tidak pantas dipertahankan. Aku terus menahanmu, berharap ketika hari berganti
hari hubungan kita akan semakin membaik walau kenyataannya sama sekali tidak.
Akankah aku akan menyesal ketika
melepasmu? Akankah aku bisa tanpamu? Akankah akan menjadi keputusan yang benar
ketika melepasmu? Semua pertanyaan itu telah memagari pikiranku, sehingga yang
terpikirkan adalah aku takut kehilanganmu dan rasa sakit hanya akan menjadi
harga yang pas untuk selalu berada disisimu.
Aku terlalu takut pada rasa
ketika aku memuntahkannya. Pada sakit saat aku berkali-kali memuntahkan isi
perut kita hingga habis, hingga pada akhirnya tubuh hanya mampu memuntahkan
cairan. Pada rasa lemas setelah semua termuntahkan. Takut pada rasa sakit yang
berkali-kali akan muncul ketika aku mulai melepas kenangan satu per satu bersamamu
hingga yang tersisa hanya rasa penyesalan karena sudah tak lagi memilikimu.
Tanpa pernah mau tahu, setelah
aku memuntahkan semua ada rasa lega karena tak lagi menahan dan siap untuk
diisi kembali dengan makanan yang tentunya lebih selektif, karna aku tak ingin
muntah lagi .
Tidak ada komentar:
Posting Komentar