Kamis, 01 Mei 2014

Batas Keberanian



Aku lebih berani memandangnya seperti ini. Aku begitu menikmatinya. Aku menikmati setiap inchi dari wajahnya, setiap lekukan, garis tegas wajahnya, kami begitu dekat, dan tidak ada yang lebih sempurna dari semuanya ini.

Entah sudah berapa lama aku memandangnya, mungkin satu jam, mungkin 2 atau 3 jam, atau mungkin aku telah memandanginya sepanjang dia terlelap malam ini, dan nyatanya aku tak pernah bosan. Mulai dari rambutnya yang nampak sedikit ikal, yang biasanya terlihat begitu lurus tak tergoyahkan. 2 anak jerawat yang akan menjadi dewasa pada waktunya, itu pasti akan merepotkannya karna dia begitu membenci jerawat yang tanpa ijin menghiasi wajahnya. Bibir yang dalam keadaan tenang. Hidung yang masih bernafas dan mata dalam keadaan tertutup. Aku memandangi semuanya itu secara bergantian.

Bukannya aku tidak suka ketika mataku dan matanya bertemu, hanya saja hal itu akan mempersingkat waktu pandangku kepadanya. Terlebih lagi aku akan takut pada semua tuduhan yang akan tersirat dimatanya apabila aku terpaku padanya terlalu lama. Segala tuduhan yang sama saja dengan garam itu asin dan gula itu manis. Aku tak dapat memberikan rasa lain selain asin pada garam dan manis pada gula, dan aku juga tak dapat menyalahkan rasa itu

Benar bahwa aku menyukainya,
Benar bahwa aku punya rasa,
Benar bahwa aku tak seharusnya seperti ini,
Benar bahwa aku salah.

“Aku telah puas memandangimu malam ini, aku tidak menginginkan hal ini terjadi dua kali, karena itu lekaslah sembuh, dan jangan sakit lagi.” Setelah mengatakan itu dengan lirih, aku berhenti memandanginya malam itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar