Aku lebih berani memandangnya
seperti ini. Aku begitu menikmatinya. Aku menikmati setiap inchi dari wajahnya,
setiap lekukan, garis tegas wajahnya, kami begitu dekat, dan tidak ada yang
lebih sempurna dari semuanya ini.
Entah sudah berapa lama aku memandangnya,
mungkin satu jam, mungkin 2 atau 3 jam, atau mungkin aku telah memandanginya
sepanjang dia terlelap malam ini, dan nyatanya aku tak pernah bosan. Mulai dari
rambutnya yang nampak sedikit ikal, yang biasanya terlihat begitu lurus tak
tergoyahkan. 2 anak jerawat yang akan menjadi dewasa pada waktunya, itu pasti
akan merepotkannya karna dia begitu membenci jerawat yang tanpa ijin menghiasi
wajahnya. Bibir yang dalam keadaan tenang. Hidung yang masih bernafas dan mata
dalam keadaan tertutup. Aku memandangi semuanya itu secara bergantian.
Bukannya aku tidak suka ketika
mataku dan matanya bertemu, hanya saja hal itu akan mempersingkat waktu
pandangku kepadanya. Terlebih lagi aku akan takut pada semua tuduhan yang akan
tersirat dimatanya apabila aku terpaku padanya terlalu lama. Segala tuduhan
yang sama saja dengan garam itu asin dan gula itu manis. Aku tak dapat
memberikan rasa lain selain asin pada garam dan manis pada gula, dan aku juga
tak dapat menyalahkan rasa itu
Benar bahwa aku menyukainya,
Benar bahwa aku punya rasa,
Benar bahwa aku tak seharusnya seperti ini,
Benar bahwa aku salah.
“Aku telah puas memandangimu
malam ini, aku tidak menginginkan hal ini terjadi dua kali, karena itu lekaslah
sembuh, dan jangan sakit lagi.” Setelah mengatakan itu dengan lirih, aku
berhenti memandanginya malam itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar